berisi artikel bagus, ide belajar dan sekilas cerita belajar anak-anak
| Posted at 10:13 AM on January 19, 2009 |
comments (0)
|

Ingin membangkitkan minat anak belajar angka dan huruf?
Bikin fancy cookies aja. Warna-warni ngejreng, membuat anak-anak suka melihat dan memakannya.
Zahrul, Zufar dan Zaki suka fancy cookies ini.
Sebelum dimakan ummi sempat mengulang lagi bunyi alfabet dan angka sambil menunjuk kuenya. Sambil bernyanyi juga.
Bosan... mulai mereka meminta. Boleh... coba zufar ambil A... mana kue A?
Diambil dan dimakan deh.
Berikutnya zufar ambil angka. Mi, aku makan tujuh ya?
Ohh... boleh. itu angka tujuh ya?
Iya, aku mau makan angka tujuh.
Senangnya lihat mereka makan cookies buatan umminya. Lebih senang lagi karena sambil belajar.
Cobain deh... yukk!
| Posted at 09:46 AM on December 02, 2008 |
comments (2)
|
| Posted at 08:42 AM on August 24, 2008 |
comments (0)
|
Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka
mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang
integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik
putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang
dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara
mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan
puasa Romadhon): "...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil
untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka
mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta
makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu
berbuka." (HR. Bukhari Muslim).| Posted at 08:09 AM on August 24, 2008 |
comments (0)
|

Beberapa hari lagi, insya Allah kita akan kedatangan tamu agung, tamu yang ditunggu-tunggu kaum muslimin yang beriman. Tamu itu adalah bulan Ramadhan. Di antara persiapan menyambut bulan mulia ini yang perlu Anda cermati adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak yang masih kecil dan baru akan belajar puasa.
Mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Keberhasilan mengkondisikan anak, memerlukan persiapan sejak jauh hari. Berikut ini beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putrinya selama bulan Ramadhan.
A. 5 Hari Sebelum Ramadhan: Mengenalkan Lewat Cerita
Stasiun TV biasanya getol mengiklankan acara-acara andalannya guna menyambut Ramadhan, bahkan jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Anda pun harus memiliki cara khusus untuk mempersiapkan putra-putri Anda. Caranya? Mudah saja, manfaatkan kebiasaan dongeng atau bercerita yang biasa Anda lakukan. Hanya saja temanya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.
Pilih cerita-cerita Islam yang menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. Bisa juga cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan, baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan. Atau Anda dapat mengarang sendiri cerita yang ada hubungannya dengan tema tersebut, selain menceritakan pengalaman masa kecil Anda ketika menjalani ibadah puasa. Ini akan lebih menarik minat anak, karena cerita tersebut lebih hidup dan Anda leluasa berimprovisasi.
Prolog Ramadhan melalui cerita ini dapat dimulai seminggu sebelum datangnya bulan Ramadhan. Di antara waktu bercerita tersebut Anda dapat mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti, plus target yang ingin mereka capai. Kemukakan juga harapan apa yang Anda harapkan untuk mereka lakukan.
Lewat cerita ini, suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak. Sehingga ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias.
B. 3 Hari sebelum Ramadhan: Membangun Suasana
Suasana rumah yang berubah juga akan mempengaruhi semangat anak. Misalnya dengan mengubah penataan rumah, mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjamaah dan tadarus Al-Qur?an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan kaligrafi dan gambar islami.
Demikian pula untuk dekorasi rumah maupun kamar, bangun nuansa islami. Misalnya dengan mengubah letak play station, tv ataupun buku dan majalah yang bersifat umum, berganti dengan buku-buku atau majalah keislaman yang mudah dijangkau.
Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist, motto ataupun semboyan yang akan membangkitkan semangat mereka jika nanti menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama. Ibu sebaiknya mempersiapkan bintang-bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai anak. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan.
Kebiasaan Ayah mengecat rumah menjelang lebaran, yang biasanya dilakukan pada saat puasa, dapat dimulai justru sebelum Ramadhan. Di samping membangun mood anggota keluarga, juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.
C. 2 Hari Sebelum Ramadhan: Persiapan fisik
Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan, berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam, atau mengurangi satu kali waktu makan saja. Bila biasanya makan 3 kali sehari, menjadi 2 kali, yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa.
Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup.
D. 1 Hari Sebelum Ramadhan: Sahur Yuk!!
Bila esok mulai berpuasa, berarti malam sebelumnya kita akan melaksanakan sholat taraweh dan sahur. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama.
Untuk menarik minat anak, siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan baginya sehingga tidak merasa berat bangun tengah malam. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. Awal puasa, biarkan mereka coba dulu puasa hanya setengah hari. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu, si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa.
E. Nilai Plus Puasa Bagi Anak
Banyak sekali nilai plus dari puasa termasuk untuk anak-anak. Nabi Muhammad SAW bersabda: ?Berpuasalah, niscaya kamu sehat.? Dari sisi kesehatan, ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh, termasuk sistim enzim dan hormonal, yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna.
Selain itu anak-anak yang mencoba untuk ikut berpuasa, sesungguhnya sedang dilatih untuk berdisiplin. Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari, makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. Termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama.
Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja, tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Karenanya, bila memang belum waktunya anak puasa penuh, biarlah mereka berbuka di tengah hari. Bukankah segala sesuatunya berlangsung bertahap? Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa.
Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur, misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah, anak juga bisa diajar untuk berterus-terang, bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya.
Nah Ibu, selamat menuntun putera-putrinya untuk ikut berpuasa selama bulan Ramadhan.
(Eva)/Moslem World
| Posted at 10:21 AM on July 31, 2008 |
comments (0)
|

| Posted at 11:32 AM on July 28, 2008 |
comments (0)
|

| Posted at 10:37 AM on July 10, 2008 |
comments (0)
|
Libur akhir semester bersamaan dengan liburan akhir tahun telah tiba. Anak-anak tentu sangat antusias menghadapinya, demikian juga orangtua. Banyak keinginan yang ingin dilakukan oleh anak. Mereka tentu ingin merasakan suatu pengalaman baru yang menarik dan menyenangkan. Tidak sedikit orangtua bahkan dengan sengaja menjadwalkan cuti untuk menemani anaknya berlibur. Liburan sekolah memang kesempatan yang sangat baik untuk ajang kebersamaan keluarga. Orangtua yang selama ini sibuk bekerja sehingga interaksi dengan anak-anak sangat terbatas melihat peluang bagus untuk melakukan kegiatan bersama seluruh keluarga.
Tentu sangat baik jika setiap menjelang libur sekolah orangtua secara sengaja menyusun rencana untuk mengisi hari-hari itu dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi semua. Jadi, liburan bukanlah sekadar melepaskan diri dari rutinitas sekolah belaka, tetapi harus dijadikan sebagai kesempatan bagi orangtua untuk memperbaiki yang kurang dalam proses pendidikan.
Pada dasarnya, pendidikan bertujuan untuk menjadikan anak lebih berkualitas. Anak diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademis, tetapi sekaligus memiliki keterampilan dan kepribadian Islam yang tangguh. Beberapa aktivitas kaya manfaat yang dapat dilakukan selama liburan antara lain:
1. Meningkatkan pemahaman Islam.
Masa liburan juga bisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman anak pada ajaran Islam. Mulai dari peningkatkan kualitas ibadah, hapalan ayat-ayat al-Quran, kajian sirah Nabi saw. dan para sahabat sampai peningkatan semangat juang mereka. Mengikutkan anak pada acara pesantren kilat liburan merupakan salah satu alternatif yang baik. Saat ini pesantren kilat tidak hanya diselenggarakan pada bulan Ramadhan saja, tetapi ada juga yang diselenggarakan saat liburan sekolah. Kalau tidak ada program pesantren kilat, orangtua bisa berinisiatif membuat program semacam itu di lingkungan tempat tinggalnya, misalnya di masjid terdekat, bekerjasama dengan pengurus masjid yang ada. Buatlah materi kajian yang menarik, sesuai dengan tahapan usia anak, tentu tetap dengan memperhatikan target-target yang ingin di capai.
Lengkapi
kegiatan pesantren kilat dengan kegiatan unjuk kemampuan di dalam
menyampaikan
apa yang sudah diperoleh anak. Misalnya, dengan mengadakan lomba kultum, cerdas
cermat dan sebagainya. Kegiatan semacam ini akan melatih keberanian sekaligus
pengalaman yang sangat berharga buat anak. Jika perlu, siapkan hadiah spesial
untuk para pemenang agar anak bersemangat dan berusaha tampil sempurna.
2. Melibatkan anak dalam aktivitas dakwah orangtua.
Liburan juga merupakan kesempatan bagus untuk melibatkan anak dalam aktivitas dakwah orangtuanya. Hal ini penting untuk memberikan contoh dan lingkungan yang kondusif sehingga suasana dakwah sudah bisa dirasakan anak sejak dini. Ajaklah anak turut serta ketika kita menjadi peserta atau pembicara dalam pengajian, diskusi, seminar atau bahkan aksi-aksi protes di jalanan. Selain sebagai sarana latihan dakwah buat anak, sekaligus juga sebagai sarana rekreasi keluarga. Sesampai di rumah, anak bisa diminta pendapatnya tentang kegiatan yang baru saja ia ikuti. Bisa juga ia ditanya tentang materi yang disampaikan orangtua, respon atau tanggapan para peserta, bahkan mungkin tanpa kita duga ia juga mempunyai kritik dan saran buat kita.
Namun, sebelum memutuskan untuk mengajak anak pergi berdakwah, tentu harus dipertimbangkan kondisi kesiapan anak. Lakukanlah persiapan seperlunya agar anak di sana bisa merasa nyaman dan tidak malah menimbulkan masalah. Sambil mengajak anak berdakwah, jelaskan kepada mereka bahwa dakwah adalah kewajiban setiap Muslim. Jika perlu, kenalkan kepada mereka dalil-dalil tentang kewajiban berdakwah. Jelaskan pula bahwa Islam bukan hanya mengajarkan sebatas ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi juga dakwah. Ajaklah anak-anak mulai menghapal ayat-ayat atau hadis yang berbicara tentang kewajiban berdakwah, seperti QS al-Ashr yang sangat populer di kalangan anak-anak.
3. Melatih keterampilan rumah tangga.
Liburan sangat baik dimanfaatkan untuk melatih keterampilan anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah sehari-hari memang terlihat sepele, tetapi kalau tidak terlatih, akan membuat anak canggung ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Masa liburan adalah kesempatan bagi orangtua untuk mengenalkan pada mereka bagaimana memegang sapu yang benar, mencuci piring, merapikan tempat tidur, melipat baju, menyeterika dan pekerjaan rumah lainnya. Orangtua harus terlibat aktif dalam mengajarkan keterampilan pekerjaan rumah ini sehingga anak tahu persis cara yang benar. Jika dikerjakan bersama-sama dan diselingi canda, anak-anak juga akan merasa gembira. Jadi, siapa bilang rekreasi harus selalu berarti pergi jauh?
4. Menjalin keakraban anggota keluarga.
Silaturahmi merupakan amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Mengisi waktu liburan dengan silaturahmi kepada kerabat sangat baik dilakukan. Namun, kalau anak-anak berencana akan tinggal di rumah nenek, misalnya, untuk waktu yang agak lama, pastikan bahwa semua akan berjalan baik; anak-anak tidak merepotkan sang nenek dan pastikan juga bahwa pengasuhan beliau selaras dengan pola pengasuhan dan rutinitas yang selama ini sudah diterapkan di dalam keluarga. Dengan begitu, sepulang liburan anak-anak memang mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan tidak kehilangan apa-apa yang selama ini sudah diupayakan bersama di rumah dengan anggota keluarga.
5. Membangun kepedulian terhadap sesama Muslim.
Masa libur juga merupakan kesempatan bagi orangtua untuk membangun kepedulian anak terhadap saudaranya sesama muslim. Misalnya dengan cara mengakseskan mereka informasi lewat media cetak dan elektonik yang berkaitan dengan perkembangan negeri-negeri Muslim, penderitaan mereka dan problem yang melanda kaum Muslim baik di Indonesia maupun di negeri-negeri Muslim lainnya. Langkah praktis lain yang bisa dilakukan misalnya dengan memutar film-film yang menggambarkan penderitaan kaum Muslim karena kezaliman musuh-musuh Islam, mengumpulkan berita-berita yang berkaitan dengan perkembangan kaum Muslim, dan kemudian mendiskusikannya serta mengajak mereka untuk menyusun rencana aksi. Misalnya, yang paling sederhana, mereka bisa diajak untuk menyisihkan sebagian uang tabungannya untuk membantu saudara sesama Muslim yang sedang menderita itu.
6. Mengasah rasa kepekaan sosial.
Libur juga merupakan kesempatan untuk mengasah rasa kepekaan sosial anak terhadap lingkungan. Aksi bongkar lemari pakaian anak-anak dan memberikannya sebagian kepada yang memerlukan merupakan langkah yang terpuji. Anak-anak juga bisa diajak mengunjungi panti-panti asuhan, agar mereka bisa turut merasakan sedihnya tidak memiliki ayah/ibu dan berbagi keceriaan bersama mereka. Anak akan dapat melihat bahwa di dalam hidup ini ada banyak hal yang belum mereka ketahui. Ada banyak anak-anak yang menjalani hidup sangat berbeda. Hal ini akan dapat melatih anak untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang sudah Allah Swt. berikan.
7. Mengenalkan Allah melalui ciptaan-Nya.
Jika berencana untuk berpergian (berwisata), pilihlah berwisata ke alam bebas. Pergi ke pegunungan atau pantai adalah pilihan yang tepat. Di tempat-tempat seperti itu, anak akan belajar banyak hal. Mereka akan mengenal berbagai macam pohon yang selama ini belum pernah mereka lihat. Anak dapat memegangnya, merasakan keras batangnya, bau daunnya, buahnya atau bunganya. Bahkan kalau memungkinkan, biarkan anak memanjatnya, tentu dengan tidak merusaknya. Dengan mengenali berbagai macam pohon dan keindahan alam, sekaligus anak akan lebih memahami kebesaran Allah Swt. Kenalkan lepada anak sebanyak mugkin tanam-tanaman. Jangan sampai dia tidak tahu bahwa nasi yang selama ini dia makan berasal dari padi yang terbentang hijau di sawah. Lebih bagus kalau anak juga diperlihatkan bagaimana proses pembuatannya sampai menjadi beras.
Di pantai yang terbentang luas, anak akan dapat berlari-lari, bermain air dan pasir, sekaligus merasakan betapa kecilnya dia dibandingkan dengan alam semesta apalagi Allah Swt. Di lautan anak mungkin akan melihat bermacam ikan, yang selama ini hanya dia lihat ketika siap disantap di meja makan. Anak juga bisa mengumpulkan kerang, melihat berbagai binatang laut yang merayap di atas pasir yang selama ini hanya dia lihat di televisi atau buku. Bahkan mungkin juga dia bisa merasakan gigitan salah satu dari binatang-binatang itu.
Khatimah
Banyak hal yang bisa dilakukan pada setiap kali liburan, asal semuanya direncanakan dengan baik. Dengan cara itu, insya Allah anak akan menjadi lebih berkualitas. Jelas sekali bahwa libur sekolah bukan berarti anak berhenti belajar. Liburan harus dijadikan lebih bermakna, berkesan dan tetap dijadikan arena untuk mendidik. Anak-anak gembira, orangtua merasa lega, semua merasa bahagia.
Oleh : Zulia
Ilmawati
(Psikolog, Pemerhati
Masalah Anak dan Keluarga)
| Posted at 08:38 AM on April 22, 2008 |
comments (0)
|
Menggunakan buku-buku membantu mengembangkan daya pengamatan dan kemampuan anak untuk mendengarkan. Penggunaan buku meningkatkan kemahiran mereka dalam berbincang-bincang dan mendorong keinginan untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa erat berkaitan kemampuan untuk berpikir. Buku-buku juga merangsang imajinasi dan mendorong pengembangan emosional karena anak mulai menghargai bagaimana perasaan orang lain. Buku-buku memperluas pengetahuannya mengenai dunia dengan memperkenalkan kepadanya situasi-situasi baru dan memperdalam pemahamannya akan hal-hal yang telah dialaminya.| Posted at 08:47 AM on March 06, 2008 |
comments (0)
|
| Posted at 08:35 AM on March 02, 2008 |
comments (0)
|