Belajar di Rumah

Learning for life : Preparing children to meet the challenge

Blog

berisi artikel bagus, ide belajar dan sekilas cerita belajar anak-anak

view:  full / summary

Alphabet dan Number Cookies

Posted at 10:13 AM on January 19, 2009 Comments comments (0)

   


Ingin membangkitkan minat anak belajar angka dan huruf?

Bikin fancy cookies aja. Warna-warni ngejreng, membuat anak-anak suka melihat dan memakannya.

Zahrul, Zufar dan Zaki suka fancy cookies ini.

Sebelum dimakan ummi sempat mengulang lagi bunyi alfabet dan angka sambil menunjuk kuenya. Sambil bernyanyi juga.

Bosan... mulai mereka meminta. Boleh... coba zufar ambil A... mana kue A?

Diambil dan dimakan deh.

Berikutnya zufar ambil angka. Mi, aku makan tujuh ya?

Ohh... boleh. itu angka tujuh ya?

Iya, aku mau makan angka tujuh.

Senangnya lihat mereka makan cookies buatan umminya. Lebih senang lagi karena sambil belajar.

Cobain deh... yukk!





Belajar Bahasa Jepang

Posted at 09:46 AM on December 02, 2008 Comments comments (2)
Mau belajar bahasa Jepang gratis?
Kunjungi deh NHK World. Obline, ada file audionya, pelajarannya cukup mudah dan terstruktur, ada video juga, bisa download MP3, bahkan download buku pelajarannya dalam bentuk pdf, dan yang jelas cocok buat pemula.

Penasaran? Klik deh NHK World dan selamat belajar.

10 Langkah Mengisi Ramadhan Bersama Anak

Posted at 08:42 AM on August 24, 2008 Comments comments (0)
Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon): "...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka." (HR. Bukhari Muslim).

Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan :

1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.

2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.

3. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.

4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan dipinggir jalan.

5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.

6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.

7. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. "Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa". Anak akan senang karena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.

8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.

9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.

10. Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.

Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim.[]

Dari Hudzaifah.org
Disusun oleh: Penerbit BINA MITRA

Persiapan Ramadhan Bagi Anak

Posted at 08:09 AM on August 24, 2008 Comments comments (0)

Beberapa hari lagi, insya Allah kita akan kedatangan tamu agung, tamu yang ditunggu-tunggu kaum muslimin yang beriman. Tamu itu adalah bulan Ramadhan. Di antara persiapan menyambut bulan mulia ini yang perlu Anda cermati adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak yang masih kecil dan baru akan belajar puasa.


Mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Keberhasilan mengkondisikan anak, memerlukan persiapan sejak jauh hari. Berikut ini beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putrinya selama bulan Ramadhan.


A. 5 Hari Sebelum Ramadhan: Mengenalkan Lewat Cerita

Stasiun TV biasanya getol mengiklankan acara-acara andalannya guna menyambut Ramadhan, bahkan jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Anda pun harus memiliki cara khusus untuk mempersiapkan putra-putri Anda. Caranya? Mudah saja, manfaatkan kebiasaan dongeng atau bercerita yang biasa Anda lakukan. Hanya saja temanya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.


Pilih cerita-cerita Islam yang menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. Bisa juga cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan, baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan. Atau Anda dapat mengarang sendiri cerita yang ada hubungannya dengan tema tersebut, selain menceritakan pengalaman masa kecil Anda ketika menjalani ibadah puasa. Ini akan lebih menarik minat anak, karena cerita tersebut lebih hidup dan Anda leluasa berimprovisasi.


Prolog Ramadhan melalui cerita ini dapat dimulai seminggu sebelum datangnya bulan Ramadhan. Di antara waktu bercerita tersebut Anda dapat mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti, plus target yang ingin mereka capai. Kemukakan juga harapan apa yang Anda harapkan untuk mereka lakukan.


Lewat cerita ini, suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak. Sehingga ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias.


B. 3 Hari sebelum Ramadhan: Membangun Suasana

Suasana rumah yang berubah juga akan mempengaruhi semangat anak. Misalnya dengan mengubah penataan rumah, mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjamaah dan tadarus Al-Qur?an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan kaligrafi dan gambar islami.


Demikian pula untuk dekorasi rumah maupun kamar, bangun nuansa islami. Misalnya dengan mengubah letak play station, tv ataupun buku dan majalah yang bersifat umum, berganti dengan buku-buku atau majalah keislaman yang mudah dijangkau.


Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist, motto ataupun semboyan yang akan membangkitkan semangat mereka jika nanti menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama. Ibu sebaiknya mempersiapkan bintang-bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai anak. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan.


Kebiasaan Ayah mengecat rumah menjelang lebaran, yang biasanya dilakukan pada saat puasa, dapat dimulai justru sebelum Ramadhan. Di samping membangun mood anggota keluarga, juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.


C. 2 Hari Sebelum Ramadhan: Persiapan fisik

Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan, berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam, atau mengurangi satu kali waktu makan saja. Bila biasanya makan 3 kali sehari, menjadi 2 kali, yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa.


Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup.


D. 1 Hari Sebelum Ramadhan: Sahur Yuk!!

Bila esok mulai berpuasa, berarti malam sebelumnya kita akan melaksanakan sholat taraweh dan sahur. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama.


Untuk menarik minat anak, siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan baginya sehingga tidak merasa berat bangun tengah malam. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. Awal puasa, biarkan mereka coba dulu puasa hanya setengah hari. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu, si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa.


E. Nilai Plus Puasa Bagi Anak

Banyak sekali nilai plus dari puasa termasuk untuk anak-anak. Nabi Muhammad SAW bersabda: ?Berpuasalah, niscaya kamu sehat.? Dari sisi kesehatan, ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh, termasuk sistim enzim dan hormonal, yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna.

Selain itu anak-anak yang mencoba untuk ikut berpuasa, sesungguhnya sedang dilatih untuk berdisiplin. Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari, makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. Termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama.


Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja, tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Karenanya, bila memang belum waktunya anak puasa penuh, biarlah mereka berbuka di tengah hari. Bukankah segala sesuatunya berlangsung bertahap? Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa.


Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur, misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah, anak juga bisa diajar untuk berterus-terang, bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya.

Nah Ibu, selamat menuntun putera-putrinya untuk ikut berpuasa selama bulan Ramadhan.


(Eva)/Moslem World

Life Skill : Membuka dan Menutup Laci

Posted at 10:21 AM on July 31, 2008 Comments comments (0)


Untuk usia : 2,5 - 4 tahun

Yang diperlukan :
  • Lemari atau meja berlaci
Pembelajaran :
  • Pandu anak untuk meletakkan jari-jari tangan pada pegangan laci
  • Beri contoh dengan menarik laci perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara, lalu dorong kembali ke tempatnya semula, juga tanpa terdengar suara.
  • Ulangi sekali lagi, lalu minta anak melakukannya sendiri.
Catatan :
Gunakan laci yang memang bisa dibuka dan ditutup dengan mudah tanpa menimbulkan suara.
Step di atas dapat juga dilakukan untuk melatih anak membuka dan menutup pintu.

Life Skill : Menyisir Rambut

Posted at 11:32 AM on July 28, 2008 Comments comments (0)


Untuk usia : 2,5 - 4 tahun

Yang diperlukan :
  • cermin
  • sisir
Pembelajaran :
  • Arahkan anak untuk memegang sisir dengan cara yang benar (tidak terbalik) di depan cermin
  • beri contoh dengan menyisir rambut perlahan dari atas ke bawah, biarkan anak mencoba sendiri berulang-ulang beberapa kali
Catatan :
Untuk latihan, gunakan sisir bergigi jarang dan tidak terlalu besar. Sebagai variasi, jika anak belum mau mencoba dengan rambutnya sendiri, biarkan dia menyisir rambut ibunya, ayahnya atau kakaknya.

Menjadikan Liburan Lebih Bermakna

Posted at 10:37 AM on July 10, 2008 Comments comments (0)

Libur  akhir semester bersamaan dengan liburan akhir tahun telah tiba. Anak-anak tentu sangat antusias menghadapinya, demikian juga orangtua. Banyak keinginan yang ingin dilakukan oleh anak. Mereka tentu ingin merasakan suatu pengalaman baru yang menarik dan menyenangkan.  Tidak sedikit orangtua bahkan dengan sengaja menjadwalkan cuti untuk menemani anaknya berlibur. Liburan sekolah memang kesempatan yang sangat baik untuk ajang kebersamaan keluarga. Orangtua yang selama ini sibuk bekerja sehingga interaksi dengan anak-anak sangat terbatas  melihat peluang bagus untuk melakukan kegiatan bersama seluruh keluarga.

Tentu sangat baik jika setiap menjelang libur  sekolah  orangtua secara sengaja menyusun rencana untuk mengisi hari-hari itu dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi semua. Jadi,  liburan bukanlah sekadar melepaskan diri dari rutinitas sekolah belaka, tetapi harus dijadikan sebagai kesempatan bagi orangtua untuk memperbaiki yang kurang dalam proses pendidikan. 

Pada dasarnya, pendidikan bertujuan untuk menjadikan anak lebih berkualitas. Anak diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademis, tetapi sekaligus memiliki keterampilan dan kepribadian Islam yang tangguh. Beberapa aktivitas kaya manfaat yang dapat dilakukan selama liburan antara lain:

1.   Meningkatkan pemahaman Islam.

Masa liburan juga bisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman anak pada ajaran Islam. Mulai dari peningkatkan kualitas ibadah, hapalan ayat-ayat al-Quran, kajian sirah Nabi saw. dan para sahabat sampai peningkatan semangat juang mereka. Mengikutkan anak pada acara pesantren kilat liburan merupakan salah satu alternatif yang baik. Saat ini pesantren kilat tidak hanya diselenggarakan pada bulan Ramadhan saja, tetapi ada juga yang diselenggarakan saat liburan sekolah. Kalau tidak ada program pesantren kilat, orangtua bisa berinisiatif membuat program semacam itu di lingkungan tempat tinggalnya, misalnya di masjid terdekat, bekerjasama dengan pengurus  masjid yang ada. Buatlah materi kajian yang menarik, sesuai dengan tahapan usia anak, tentu tetap dengan memperhatikan target-target yang ingin di capai.

Lengkapi kegiatan pesantren kilat dengan kegiatan unjuk kemampuan di dalam menyampaikan apa yang sudah diperoleh anak. Misalnya, dengan mengadakan lomba kultum, cerdas cermat dan sebagainya. Kegiatan semacam ini akan melatih keberanian sekaligus pengalaman yang sangat berharga buat anak. Jika perlu, siapkan hadiah spesial untuk para pemenang agar anak bersemangat dan berusaha tampil sempurna.  

2.   Melibatkan  anak dalam aktivitas dakwah orangtua.

Liburan juga merupakan kesempatan bagus untuk melibatkan anak dalam aktivitas dakwah orangtuanya. Hal ini penting untuk memberikan contoh dan lingkungan yang kondusif sehingga suasana dakwah sudah bisa dirasakan anak sejak dini. Ajaklah anak turut serta  ketika kita menjadi peserta atau pembicara dalam pengajian, diskusi, seminar atau bahkan aksi-aksi protes di jalanan. Selain sebagai sarana latihan dakwah buat anak, sekaligus juga sebagai sarana rekreasi keluarga. Sesampai di rumah, anak bisa diminta pendapatnya tentang  kegiatan yang baru saja ia ikuti. Bisa juga ia ditanya tentang materi yang disampaikan orangtua, respon atau tanggapan para peserta, bahkan mungkin tanpa kita duga ia juga mempunyai  kritik dan saran buat kita.

Namun, sebelum memutuskan untuk mengajak anak pergi berdakwah, tentu harus dipertimbangkan kondisi kesiapan anak. Lakukanlah persiapan seperlunya  agar anak di sana bisa  merasa nyaman dan tidak malah menimbulkan masalah. Sambil mengajak anak berdakwah, jelaskan kepada mereka bahwa dakwah adalah kewajiban setiap Muslim. Jika perlu, kenalkan kepada mereka dalil-dalil tentang kewajiban berdakwah. Jelaskan pula bahwa Islam bukan hanya mengajarkan sebatas ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi juga dakwah. Ajaklah anak-anak mulai menghapal ayat-ayat atau hadis yang berbicara tentang kewajiban berdakwah, seperti QS al-Ashr yang sangat populer di kalangan anak-anak.

3.   Melatih keterampilan rumah tangga.

Liburan sangat baik dimanfaatkan untuk melatih keterampilan anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah sehari-hari memang terlihat sepele, tetapi kalau tidak terlatih, akan membuat anak canggung ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Masa liburan adalah kesempatan bagi orangtua untuk mengenalkan pada mereka bagaimana memegang sapu yang benar, mencuci piring, merapikan tempat tidur, melipat baju, menyeterika dan pekerjaan rumah lainnya. Orangtua harus terlibat aktif dalam mengajarkan keterampilan pekerjaan rumah ini sehingga anak tahu persis cara yang benar. Jika dikerjakan bersama-sama dan diselingi canda, anak-anak juga akan merasa gembira. Jadi, siapa bilang rekreasi harus selalu berarti pergi jauh?

4.   Menjalin keakraban anggota keluarga.

Silaturahmi merupakan amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Mengisi waktu liburan dengan silaturahmi kepada kerabat sangat baik dilakukan. Namun,  kalau anak-anak berencana akan tinggal di rumah nenek, misalnya, untuk waktu yang agak lama, pastikan bahwa semua akan berjalan baik; anak-anak tidak merepotkan sang nenek dan pastikan juga bahwa pengasuhan beliau selaras dengan pola pengasuhan dan rutinitas yang selama ini sudah diterapkan di dalam keluarga. Dengan begitu, sepulang liburan anak-anak memang mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan  tidak kehilangan apa-apa yang selama ini sudah diupayakan bersama di rumah dengan anggota keluarga.

5.   Membangun kepedulian terhadap sesama Muslim.

Masa libur juga merupakan  kesempatan bagi orangtua untuk membangun kepedulian anak terhadap saudaranya sesama muslim. Misalnya dengan cara mengakseskan mereka informasi lewat media cetak dan elektonik yang berkaitan dengan perkembangan negeri-negeri Muslim, penderitaan mereka dan problem yang melanda kaum Muslim baik di Indonesia maupun di negeri-negeri Muslim lainnya. Langkah praktis lain yang bisa dilakukan misalnya dengan memutar film-film yang menggambarkan penderitaan kaum Muslim karena kezaliman musuh-musuh Islam, mengumpulkan berita-berita yang berkaitan dengan perkembangan kaum Muslim, dan kemudian mendiskusikannya serta mengajak mereka untuk menyusun rencana aksi. Misalnya, yang paling sederhana, mereka bisa diajak untuk menyisihkan sebagian uang tabungannya untuk membantu saudara sesama Muslim yang sedang menderita itu.

6.   Mengasah rasa kepekaan sosial.

Libur juga merupakan kesempatan  untuk mengasah rasa kepekaan sosial anak terhadap lingkungan. Aksi bongkar lemari pakaian anak-anak dan memberikannya sebagian kepada yang memerlukan merupakan langkah yang terpuji. Anak-anak juga bisa diajak mengunjungi panti-panti asuhan, agar mereka bisa turut merasakan sedihnya tidak memiliki  ayah/ibu dan berbagi keceriaan bersama mereka. Anak akan dapat melihat bahwa di dalam hidup ini ada banyak hal yang belum mereka ketahui. Ada banyak anak-anak yang menjalani hidup sangat berbeda. Hal ini akan dapat melatih anak untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang sudah Allah Swt. berikan.

7.   Mengenalkan Allah melalui ciptaan-Nya.

Jika berencana untuk berpergian (berwisata), pilihlah berwisata ke alam bebas. Pergi ke pegunungan atau pantai adalah pilihan yang tepat. Di tempat-tempat seperti itu, anak akan belajar banyak hal. Mereka akan mengenal berbagai macam pohon yang selama ini belum pernah mereka lihat. Anak dapat memegangnya, merasakan keras batangnya, bau daunnya, buahnya atau bunganya. Bahkan kalau memungkinkan, biarkan anak memanjatnya, tentu dengan tidak merusaknya. Dengan mengenali berbagai macam pohon dan keindahan alam, sekaligus anak akan lebih memahami kebesaran Allah Swt. Kenalkan lepada anak sebanyak mugkin tanam-tanaman. Jangan sampai dia tidak tahu bahwa nasi yang selama ini dia makan berasal dari padi yang terbentang hijau di sawah. Lebih bagus kalau anak juga diperlihatkan bagaimana proses pembuatannya sampai menjadi beras.

Di pantai yang terbentang luas, anak akan dapat berlari-lari, bermain air dan pasir,  sekaligus merasakan betapa kecilnya dia dibandingkan dengan alam semesta apalagi Allah Swt. Di lautan anak mungkin akan melihat bermacam ikan, yang selama ini hanya dia lihat ketika siap disantap di meja makan. Anak juga bisa mengumpulkan kerang, melihat berbagai binatang laut yang merayap di atas pasir yang selama ini hanya dia lihat di televisi atau buku. Bahkan mungkin juga dia bisa merasakan gigitan salah satu dari binatang-binatang itu.  


Khatimah

Banyak hal yang bisa dilakukan pada setiap kali liburan, asal semuanya direncanakan dengan baik. Dengan cara itu, insya Allah anak akan menjadi lebih berkualitas. Jelas sekali bahwa  libur sekolah bukan berarti anak berhenti  belajar. Liburan harus dijadikan lebih bermakna, berkesan dan tetap dijadikan arena untuk mendidik. Anak-anak gembira, orangtua merasa lega, semua merasa bahagia.

Oleh : Zulia Ilmawati
(Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)

Tentang Buku (Gambar dan Cerita)

Posted at 08:38 AM on April 22, 2008 Comments comments (0)
Tidak pernah ada kata terlalu dini untuk memperkenalkan buku kepada anak-anak, baik untuk dinikmati maupun nilai ajarnya. Melihat buku bersama-sama juga merupakan pengalaman yang berharga yang dapat memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Gunakan buku sesering mungkin, jangan pernah memaksakan buku kepada anak yang pada saat itu jelas lebih menginginkan hal lain.

Menggunakan buku-buku membantu mengembangkan daya pengamatan dan kemampuan anak untuk mendengarkan. Penggunaan buku meningkatkan kemahiran mereka dalam berbincang-bincang dan mendorong keinginan untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa erat berkaitan kemampuan untuk berpikir. Buku-buku juga merangsang imajinasi dan mendorong pengembangan emosional karena anak mulai menghargai bagaimana perasaan orang lain. Buku-buku memperluas pengetahuannya mengenai dunia dengan memperkenalkan kepadanya situasi-situasi baru dan memperdalam pemahamannya akan hal-hal yang telah dialaminya.

Jika seorang anak biasa dengan buku-buku dan menikmati buku-buku, sangat mungkin ia ingin belajar membaca. Melihat-lihat buku pada usia dini mengajarinya kemahiran pra-baca yang berharga, seperti misalnya kewaspadaan akan rincian.

Sikap seorang anak terhadap buku dikondisikan oleh sikap orang tuanya terhadap buku. Ia akan mengira bahwa buku pantas dinikmati.

Sumber : Usborne Book

Aktifitas Sains : Menanam Kecambah

Posted at 08:47 AM on March 06, 2008 Comments comments (0)


Usia yang disarankan : 4 tahun ke atas


Siapkanlah  segenggam kacang hijau. Rendam dalam tempat, sisihkan. Lalu, ajaklah anak menyiapkan sebuah toples kaca sebagai wadah untuk kacang tersebut. Tata kapas di dasar toples. Tuangkan air ke dalam toples hingga semua kapas basah terendam air. Tiriskan kacang hijau, kemudian taburkan  ke dalam toples hingga rata.

Ingatkan anak untuk memperhatikan perkembangan kacang hijau  tersebut tiap pagi dan sore. Biasanya dalam dua hari tunas-tunas sudah mulai bermunculan. Dan pada hari ketiga atau keempat kecambah sudah bisa dipanen.

Inspirasi : 365 kegiatan untuk anak dini usia
- dengan perubahan cara sesuai praktek Zahrul.

Membiasakan Zaki Menyikat Gigi

Posted at 08:35 AM on March 02, 2008 Comments comments (0)
Seperti abang-abangnya yang tidak sulit untuk terbiasa menyikat gigi, Zaki juga mulai dikenalkan dengan ritual menyikat gigi. Sebetulnya sejak Zaki bayi, ummi selalu membersihkan mulut dan gusinya dengan kassa basah. Dilanjutkan ketika gusinya mulai gatal, ummi mengajar Zaki memegang sebuah alat mirip sikat gigi tetapi ujungnya berupa karet. Ada dua alat training yang digunakan Zaki sampai usianya menjelang satu tahun.

Setelah setahun, Zaki mulai diperkenalkan dengan yang namanya sikat gigi. Awalnya Zaki  dibiasakan dulu dengan sikat giginya. Ummi membelikan sebuah sikat gigi yang gagangnya juga berfungsi sebagai rattle. Berbentuk oval berwarna merah dan kuning. Saat mandi Zaki bermain dengan sikat giginya. Saat bermain pun Zaki kadang dibiarkan memegang sikat giginya. Lucu juga melihat reaksinya setiap memasukkan sikat gigi ke dalam mulut, dia pasti menggeleng geli. Mungkin terasa aneh merasakan bulu sikat di lidahnya.

Ya, Zaki memang baru perkenalan dengan sikat giginya. Sama dengan kedua abangnya, semua dilakukan bertahap sampai mereka sekarang terbiasa menyikat gigi. Alhamdulillah gigi kedua abangnya bagus semua. Mudah-mudahan gigi Zaki juga sebagus gigi kedua abangnya, walaupun dibanding abangnya pertumbuhan gigi Zaki termasuk terlambat. Sudah setahun umurnya, tapi giginya baru tumbuh 4 (empat). It's OK, just wait and see.


View Older Posts »

Rss_feed

Meta

Translate This Page

Gallery

Comment


ShoutMix chat widget