http://cafe.degromiest.nl/files/puasa-noeat.gif" align="left" />Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka
mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang
integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik
putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang
dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara
mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan
puasa Romadhon): "...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil
untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka
mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta
makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu
berbuka." (HR. Bukhari Muslim).
Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat
memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk
membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk
meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita
perhatikan :
1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan
pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian
ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat
mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.
2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah
menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah
yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat
juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah,
sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan
bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat
sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling
indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini
tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum
dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya,
perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.
3. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun
sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah
jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya
antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.
4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka,
sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya.
Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini
juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan
dipinggir jalan.
5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang
terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang
malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga
tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa
kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.
6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai
rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu
jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka.
Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar,
juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa
alat-alat belajar.
7. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi
diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. "Jika kamu berpuasa, maka
kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah
mendidikmu untuk berpuasa". Anak akan senang karena sekaligus dapat
berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.
8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik
dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif
permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan
lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di
masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan
remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka.
Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang
target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran
harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus
lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali
pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan
Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.
9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat
tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak
ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid
untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah
dan lainnya.
10. Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan
puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung
jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian
melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus
memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi
anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara
yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa.
Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua
yang telah mendidik mereka.
Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim.[]
Dari Hudzaifah.org
Disusun oleh: Penerbit BINA MITRA
bu wahidah, saya benar2 awam tentang internet.. saya cuma ingin tahu ttg homeschooling, bgaimana memulainya dan materi bs saya dptkan dr mana? yg berbhasa indonesia saja..syukran, jazaaakillah khair
Oops!
Oops, you forgot something.