Belajar di Rumah

Learning for life : Preparing children to meet the challenge

Apa Itu Sekolah Rumah?

Sekolah rumah adalah salah satu model alternatif belajar selain di sekolah. Pengertian umumnya adalah proses pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat lain, dimana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Sekolah Rumah : Sebuah Alternatif

Di luar negeri istilah homeschooling (sekolah rumah) bukanlah hal baru. Istilah ini merujuk pada aktifitas pembelajaran anak yang dilakukan di rumah oleh orang tua atau orang dewasa lain di rumah. Bukan sekedar belajar, tapi belajar yang terstruktur sistematis dan mengacu kepada sebuah metode serta kurikulum standar.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan orang tua memilih sistem ini sebagai pola pembelajaran anak. Pertama, orang tua sering berpindah tempat karena profesinya. Sekolah rumah membuat keluarga tidak terpisah dan anak punya banyak waktu bersama orang tuanya.

Kedua, ada keluarga yang merasa bahwa anaknya membutuhkan lebih dari sekedar akademis. Anak butuh pengalaman belajar yang sesuai  dengan minat anak dan juga tantangan. Sistem belajar di rumah memberikan lingkungan belajar dengan perbandingan guru dan murid yang ideal. Orang tua dan anaklah yang menentukan mau belajar apa, kapan dan dimana?

Ketiga,  mempertahankan keimanan dan ritual keagamaan anak. Sistem ini memungkinkan orang tua melatih anak bagaimana mempraktekkan hidup islami sehari-hari.

Keempat,  menghindari dan menjaga dari lingkungan sekolah yang berbahaya seperti dipalak atau dikompas anak nakal, tawaran narkoba, seks bebas atau tindakan kriminal lainnya.

Kelima,  meningkatkan keakraban keluarga di jaman di mana anak lebih banyak dididik oleh pengasuhnya atau orang dewasa lain atau dititipkan di sekolah yang sekaligus melayani penitipan anak. Sistem ini dapat menyambung kehangatan di dalam keluarga karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama.

Karena itu, sebelum memutuskan anak pergi ke sekolah atau belajar di rumah, perlu diperhatikan betul kelebihan dan kekurangan kedua metode belajar ini dan pilihlah metode paling cocok yang memungkinkan anak mendapatkan pilihan terbaik.

Taken from Ummi Edisi Spesial 

Metode dalam Sekolah Rumah

Saat pertama kali melakukan pencarian informasi tentang homeschooling enam tahun lalu, saya benar-benar bingung bagaimana memulainya. Awalnya saya mengira metode tradisional itu yang terbaik karena saya punya jadwal dan pelajaran yang jelas setiap harinya. Ternyata setelah sempat mencoba membuat jadwal dan menyusun pelajaran yang akan diberikan, saya akhirnya sadar bahwa homeschooling tuh gak selamanya seperti sekolah, terlebih lagi jika seperti saya yang bekerja penuh waktu dan masih harus memikirkan urusan rumah pula!

Berdasarkan pencarian, ada beberapa metode dalam homeschooling. Ini daftar singkatnya:

  • Charlotte Mason Method:
    Charlotte Mason mengembangkan pendekatan khusus terhadap pendidikan yang lebih fokus pada kurikulum berbasis literatur. 
  • Montessori Method:
    Menurut  Dr. Maria Montessori, “learning is a natural, self-directed process which follows certain fundamental laws of nature”. Rekomendasinya kepada orang tua dan guru adalah  “Follow the Child.”
  • The Eclectic Homeschooler:
    Banyak keluarga yang akhirnya memilih metode ini, karena untuk mengajarkan sebuah materi kita bisa menggunakan pendekatan yang berbeda-beda tergantung tujuan yang ingin dicapai. Kita bisa mengkombinasikan berbagai metode yang ada sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
  • Traditional or School-at-Home Method:
    Metode tradisional lebih mirip memindahkan sekolah ke rumah, karena kita harus menyusun kurikulum, harus ada system penilaian dan pencatatan kegiatan belajar, serta adanya jadwal yang jelas.
  • Unschooling or Natural Learning Method:
    Kalau metode ini kebalikannya dari metode tradisional, tergantung keinginan anak Untuk informasi lebih lanjut kunjungi situs ini.
  • Unit Studies Approach:
    Metode ini menggabungkan semua mata pelajaran ke dalam satu tema atau topic. Ehm, kalau pernah dengar istilah spider web, nah ini lah metodenya. Jadi untuk satu tema dinosaurus misalnya, kita bisa mengajarkan sejarah, IPA, matematika, melukis, dll.
  • Waldorf Method:
    Dikembangkan oleh Rudolf Steiner, metode ini menekankan seni dan kerajinan tangan, musik dan gerakan. Anak belajar membaca dan menulis dengan membuat buku sendiri. Kalau pernah dengar istilah Notebooking atau lapbooking, nah ini dasarnya.  Kunjungi situs ini, jika ingin mengetahui metode Waldorf lebih lengkap.
Untuk informasi yang lebih lengkap, silahkan kunjungi  situs ini

FAQ

Bagaimana dengan Kurikulum ?

Tentang kurikulum, memang di Indonesia cuma ada kurikulum tunggal (www.puskur.net). Itulah asyiknya homeschooling, kita bisa meracik sendiri kurikulum untuk anak kita sesuai dengan kebutuhan mereka. Ambil saja kurikulum luar yang bebas, lalu padu padankan sesuai kondisi anak-anak kita.

Bagaimana dengan ijazah untuk anak?

Untuk mendapat ijazah negara setara SD, SMP atau SMA, maka bisa menggunakan alternatif Ikut Program Paket.
Caranya kita bisa konsultasi Ke Kantor DIKNAS setempat, bagian subdinas Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
dan biasanya akan diarahkan untuk mengikuti unit penyelenggara program kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) yang ada disekitar wilayah kita tinggal.
By the way,
Paket A (setara SD) bisa melanjutkan ke SLTP formal,
Paket B (setara SMP) bisa melanjutkan ke SLTA formal,
Paket C (setara SMA) bisa melanjutkan ke Universitas Negeri maupun swasta (Eksak maupun Sosial). Dijamin Undang-undang negara………

Catatan untuk para keluarga yang memutuskan HS :

  1. Sebisa mungkin segera melapor ke Diknas masing-masing untuk pendataan, terutama HSer yang sudah memasuki usia sekolah. Sepertinya Diknas tiap kota akan beda kebijakannya, jadi aktiflah mencari info.
  2. Mungkin akan berbeda tiap wilayah, tetapi belajar dari pengalaman
    teman-teman di Malang, Diknas tidak mau mengurusi HSer orang per orang/keluarga per keluarga, jadi sebaiknya segera dibentuk Asahpena Wilayah sebagai wadah, berapapun anggotanya. Selanjutnya Diknas hanya bersedia menerima laporan dari wadah Asahpena ini, bukan perorangan.
  3. Belajar dari Malang, Diknas kota/kab TIDAK PEDULI apa yang terjadi di Diknas pusat (kesepakatan Asahpena-Diknas, dll) dan untuk di wilayahnya diberlakukan ketentuan sesuai prosedur yang berlaku di daerah.

Kalau anak bosan, bisakah mereka pindah/masuk kembali ke sekolah formal?

Sekarang banyak terdapat komunitas - tempat berkumpulnya keluarga Homeschooling. Bergabung dengan komunitas mempunyai keuntungan tersendiri. Selain adanya tempat untuk berkonsultasi, komunitas merupakan pendukung utama dalam pelaksanaan kegiatan Homeschooling keluarga. Contohnya komunitas Kerlip di daerah Tanjung Barat, mereka mempunyai sekolah mitra. Dengan adanya sekolah mitra kerlip seperti SD Hikmah Teladan, SD Tumbuh Kembang Al Amanah, SD Plus Marhas, SDIT Mutiara Hati, SMP Plus Al Amanah, SMA Plus PGRI Cibinong, anak-anak dapat melanjutkan atau pindah sekolah setiap diperlukan. Jadi tidak perlu khawatir kan?

Adakah persyaratan khusus bagi anak homeschooler untuk ikut ujian kesetaraan?

Persyaratan peserta ujian nasional pendidikan kesetaraan bagi peserta didik yang belajar secara mandiri yang pindah jalur dari pendidikan formal ke pendidikan nonformal adalah:

  1. memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada satuan pendidikan mulai semester I tahun pertama hingga semester I tahunterakhir pada satuan pendidikan formal yang setara
  2. memiliki ijazah dari satuan pendidikan setingkat lebih rendah kecuali untuk mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan Paket A

Persyaratan peserta ujian nasional pendidikan kesetaraan bagi pesertadidik yang belajar secara mandiri adalah:

  1. memiliki laporan hasil belajar berupa portofolio, transkrip, rapot, sertifikat, surat penghargaan, surat keterangan tentang keikutsertaan dalam pelatihan, pagelaran, pameran, lomba, olimpiade, dan kegiatan unjuk prestasi lainnya, atau
  2. hasil tes kelayakan untuk mengikuti ujian nasional
Informasi lengkap bisa dibaca di situs asah pena dan sekolah maya.

Semoga membantu.

  

Sebelum Memutuskan : Mengukur Daya Dukung

Sebelum memutuskan untuk melakukan praktek sekolah rumah, pertimbangkan betul sisi kuat dan lemah metode ini. Lantas, ukurlah daya dukung yang anda miliki. Apa pilihan yang akan diambil? Sekolah, homeschooling atau semi homeschooling?

Faktor Penguat Melakukan Sekolah Rumah

  1.  Sekolah rumah merupakan sebuah program belajar mandiri di rumah. Maka, pendekatan yang digunakan pun bersifat lebih individual. Setiap anak akan memperoleh pendidikan dengan potensi dan kecenderungan minat masing-masing. Setiap karakter khas anak, dan perkembangan dirinya, dapat selalu dipantau orang tua secara personal.
  2. Fleksibilitas kurikulum
  3. Anak dan orang tua akan terlibat aktif dalam kegiatan sehari-hari sehingga keakraban dalam keluarga akan semakin kuat terjalin, sementara pengaruh buruk dari lingkungan dapat diminimalisir.


Faktor Penghambat Melakukan Sekolah Rumah

  1. Biaya. Sekolah rumah bisa jadi mahal, tetapi bisa juga murah. Biaya bisa jadi penghambat tapi bisa juga jadi penguat. Semua tergantung dari sudut mana kita memandang.
  2. Pengawasan. Sekolah rumah memang membutuhkan perencanaan dan pengawasan optimal. Disiplin dan konsistensi orang tua dalam mengajar atau memfasilitasi akan mempengaruhi sukses tidaknya sekolah rumah yang akan dijalani.
  3. Kapabilitas orang tua. Tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar anak tetapi juga kemauan orang tua untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Namun yang paling penting apakah orang tua mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar untuk mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya.

Sebelum Memutuskan : Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan

Banyak keluarga yang menjalankan sekolah rumah pada awalnya tidak serta merta langsung memutuskan untuk memilih menyekolahkan anak di rumah. Mereka justru mengalami perjalanan panjang dalam menimbang baik buruknya sekolah rumah bagi keluarga, belum lagi tekanan dari keluarga besar serta lingkungan saat mengutarakan ingin sekolah rumah.

Seperti halnya keluarga kami. Walaupun riset sudah dilakukan sejak anak pertama lahir 6 tahun lalu, karena keterbatasan akhirnya kami hanya mencoba setengah konsep ini untuk anak sulung kami. Karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan serius sebelum memutuskan untuk menjalankan sekolah rumah antara lain:

Komitmen Waktu - Homeschooling akan menghabiskan sebagian besar waktu anda, ini bukan sekedar duduk membaca buku selama beberapa jam – khususnya jika anda, seperti saya, memilih meng-HS pra sekolah/bayi. Akan ada banyak eksperimen dan kegiatan yang harus dilakukan, ada pelajaran yang harus disiapkan, ada pekerjaan yang harus dinilai, ada field trips, dan lain-lain. Ada baiknya membuat jadwal, namun tanpa jadwal pun tidak masalah.

Pengorbanan Pribadi – Orang tua yang memilih HS harus menyadari bahwa mereka akan kehilangan waktu pribadi untuk diri sendiri, karena sebagian besar waktu dihabiskan bersama anak-anak. Namun kita bisa membuat kesepakatan dengan anak-anak atau membuat jadwal khusus pribadi yang harus dikomunikasikan kepada mereka. Ini juga pembelajaran agar anak-anak menghormati kesepakatan serta menghormati bahwa orang tua mereka perlu waktu untuk memulihkan diri.

Hambatan Keuangan – Homeschooling bisa jadi mahal bisa juga tidak, namun butuh komitmen waktu yang berarti salah satu orang tua harus berada di rumah. Saya sendiri  bukan  stay at home mother dan  masha Allah sulit sekali. Beberapa teman, akhirnya menyiasati dengan mengatur waktu sehingga mereka bisa sekolah 5 hari dalam seminggu dan bekerja di 2 hari yang tersisa. Untuk keluarga saya, kami kebanyakan beraktifitas malam hari selama 5 hari seminggu dan bisa full saat akhir minggu. Biasanya di akhir minggu ini kami jalan-jalan.

Sosialisasi – Perhatian lebih sangat diperlukan untuk memberi kesempatan anak bergaul dengan orang lain. Kelebihan HS adalah kita bisa mengontrol dengan siapa anak bersosialisasi, sehingga pengaruh buruk bisa diminimalisir..

Pengaturan Rumah Tangga – Pekerjaan rumah tangga dan cucian masih harus dikerjakan, tapi tidak mungkin diselesaikan semuanya di pagi hari. Jika anda orang yang suka kerapihan, bersiap-siaplah karena HS membuat berantakan seluruh rumah.  Ini hanya masalah pengaturan yang baik. Dan semua saya yakin bisa.

Kedua Orang Tua Sepakat – Hal yang penting adalah kedua orang tua sama-sama sepakat untuk mencoba HS. Akan lebih sulit jika salah satu orang tua tidak setuju.

Apakah Anak Bersedia? – Anak yang bersedia untuk mencoba HS akan memudahkan orang tua menjalankan HS sehari-hari.

Satu Tahun Sekali – Ini bukan komitmen seumur hidup. Banyak keluarga yang mengevaluasi HS mereka setiap tahun.

Takut Mengajar?- Jika anda bisa membaca dan menulis, anda pasti bisa mengajar anak anda. Anda tidak harus punya gelar untuk bisa mengajar anak anda sendiri. Jangan biarkan orang lain menghalangi anda!

Memohon  Petunjuk – Jangan lupa sholat Istikharah. Memohon petunjuk Allah atas segala yang akan kita pilih dan lakukan. Berbicara dengan orang tua lain yang menjalankan HS atau bergabung dengan komunitas juga sangat membantu.


Meta

Translate This Page

Gallery

Comment


ShoutMix chat widget